Rabu, 16 Juni 2010

SEKILAS TENTANG PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

Akhir-akhir ini istilah Penelitian Tindakan Kelas atau PTK sangat populer di dunia pendidikan, terlebih lagi dengan adanya upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui program sertifikasi guru. Tapi sebenarnya apa sih PTK?? Apa kaitan PTK dengan peningkatan kualitas pendidikan? Dan mengapa guru perlu menguasai PTK?? Dalam artikel ini, saya akan mencoba menuliskan sedikit pengetahuan saya mengenai PTK (karena saya juga masih belajar hehehe)

A. Pengertian dan Awal Mula PTK
Secara sederhana, PTK dapat didefinisikan sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang dan bersifat reflektif mandiri yang dilakukan oleh guru atau calon guru yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi pembelajaran (Susilo, 2009).
PTK juga diartikan sebagai salah satu strategi penyelesaian masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan menyelesaikan masalah (Susilo, 2009). Dalam prakteknya adanya hubungan timbal balik antara pihak-pihak yang terlibat PTK, sehingga saling mendukung satu sama lain.
Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian reflekstif yang dilaksanakan secara siklus (berdaur) oleh guru atau calon guru di dalam kelas. Dikatakan demikian karena proses PTK dimulai dari tahapan perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi hal-hal baru demi peningkatan kualitas pembelajaran (Susilo, 2009).
Terdapat banyak perdebatan dan pendapat mengenai latar belakang adanya PTK. Diantara banyak pendapat tersebut, ada salah satu pendapat yang menyebutkan bahwa istilah “penelitian tindakan” mula-mula diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1934. setelah mengalami pengalaman praktis yang terkait dengan penelitian tindakan, pada awal tahun 1940an Kurt Lewin mendefinisikan penelitian tindakan sebagai suatu proses pengembangan daya pikir reflekstif, diskusi, dan pengambilan keputusan sekaligus yang dilakukan oleh sekelompok orang biasa yang berpartisipasi dalam penelitian bersama mengenai “kesulitan pribadi” yang sama-sama mereka alami (Adelman dalam Susilo, 2009).
Pengertian PTK selanjutnya telah banyak dirumuskan. Banyak sekelompok orang pada daerah tertentu yang melakukan PTK. Dari sini orang akan mendefiniskan PTK dengan berbagai macam pengertian mereka dengan manganut pada sumber-sumber tertentu. Pada dasarnya PTK ditulis berdasarkan tentang apa yang ada di lapangan mengenai masalah-masalah yang muncul tentang anak didik terutama. PTK yang umum dilakukan oleh seorang guru. Dalam hal ini sebaiknya seorang guru ataupun calon guru yang akan atau sedang melakukan PTK harus memiliki pedoman dan contoh-contoh yang dapat dijadikan sebagai dasar pengetahuan penelitian tindakan yang akan dilakukan.
Menurut Amien dalam Susilo (2009), proses belajar mengajar yang efektif dan bermakna akan berlangsung bila proses belajar mengajar benar-benar dapat memberikan keberhasilan dan kepuasan, baik bagi siswa maupun bagi guru. Pendapat ini memang benar, mengingat banyaknya permasalahan yang ada dan dialami oleh banyak peserta didik selama proses belajar mengajar. Ketercapaian hasil PTK yang baik adalah apabila seorang guru atau calon guru dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi siswa maupun bagi dirinya sendiri.
Banyak perbaikan yang diperlukan dalam permasalahan pendidikan di Indonesia agar menghasilkan siswa cerdas yang akan membangun dan meneruskan cita-cita bangsa di masa yang akan datang. Hal ini akan terus berjalan dengan adanya PTK yang semakin hari semakin baik pelaksanaannya.
Menurut Susilo (2009), alasan pentingnya PTK adalah karena PTK membuat guru dan siswa mampu membangun cara-cara yang berbeda untuk menyelesaikan atau menyempurnakan tugas-tugas membelajarkan atau belajar memperbaiki praktik pembelajaran dan tingkah laku belajar dalam kelas, serta mampu mengerjakan kegiatan belajar dan membelajarkan yang efektif untuk semuanya.
Pendapat tersebut memang merupakan pokok dasar yang harus dilaksanakan agar pembelajaran yang efektif dapat ditempuh seiring dengan perkembangan jaman. Dimana diketahui perkembangan jaman akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian peserta didik terhadap pembelajaran dan sebagainya. Selain itu, PTK juga dilatar belakangi oleh pentingnya hubungan yang baik dan sehat antara guru atau dosen dengan peserta didiknya.
Salah satu ciri keprofesionalan guru adalah mau belajar sepanjang hayat, dan salah satu sarana untuk belajar sepanjang hayat adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas atau PTK. Selain itu, PTK juga dapat digunakan sebagai sarana naik pangkat dan sarana untuk melengkapi bukti kinerja yang dimasukkan kedalam portofolio pada saat sertifikasi guru atau calon guru (Susilo, 2009).

B. Karakteristik-Karakteristik PTK
Penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik yang membedakannya dengan jenis penelitian lain (Susilo, 2009). Karakteristik dari PTK adalah sebagai berikut.
a. Masalah yang diteliti berupa masalah praktik pembelajaran sehari-hari di kelas yang dihadapi oleh guru atau calon guru, termasuk bagaimana membelajarkan siswa dengan pendekatan kontekstual, bagaimana mengembangkan kecakapan hidup siswa, serta bagaimana mengembangkan kompetensi siswa berdasarkan KTSP
b. Diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk memecahkan masalah tersebut dalam rangka memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
c. Terdapat perbedaan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan PTK
d. Guru sendiri yang berperan sebagai peneliti baik secara perorangan maupun kelompok.
Berikut dideskripsikan karakteristik lain dari PTK.
• Penelitian tindakan kelas bersifat situasional, yaitu berkaitan dengan mendiagnosis masalah dalam konteks tertentu, misalnya di kelas pada suatu sekolah dan berupaya untuk menyelesaikannya pada konteks tersebut.
• Penelitian tindakan kelas merupakan upaya kolaboratif antara guru/calon gru dan siswa-siswanya, yaitu suatu satuan kerjasama dengan perspektif berbeda
• Penelitian tindakan kelas bersifat self-evaluatif, yaitu kegiatan modifikasi praktis yang dilakukan secara continu, dievaluasi dalam situasi yang terus berjalan dengan tujuan akhir untuk meningkatkan perbaikan dalam praktiknya secara nyata
• Penelitian tindakan kelas bersifat luwes dan menyesuaikan.
• Penelitian tindakan kelas terutama memanfaatkan data pengamatan dan perilaku empiris.
• Ketentuan ilmiah dalam penelitian tindakan kelas memang agak longgar karena penelitian tindakan kelas merupakan antitesis dari desain penelitian eksperimental yang sebenarnya

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Menurut Susilo (2009), tujuan dan manfaat PTK adalah sebagai berikut.
• Tujuan penelitian tindakan kelas
 Memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran secara berkesinambungan yang pada dasarnya melekat pada terlaksananya misi profesional pendidikan yang diemban oleh guru.
 Meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan dalam masyarakat yang cepat berubah
 Memperbaiki dan eningkatkan layanan profesional guru dalam menangani pembelajaran yang dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis keadaan.
 Pengembangan kemampuan-keterampilan guru untuk menghadapi masalah pembelajaran di kelasnya dan di sekolahnya sendiri
 Menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru dan dosen sebagai pendidik
 Memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran melalui teknik-teknik pengajaran yang tepat sesuai dengan masalah dan tingkat perkembangan peserta didik
 Memberdayakan guru dan meningkatkan kemampuan guru dalam membuat keputusan yang tepat bagi peserta didik dan kelas yang diajarnya.
• Manfaat penelitian tindakan kelas
 Guru dan calon guru dapat langsung memerbaiki praktik-praktik pembelajaran agar menjadi lebih baik dan lebih efektiv
 Guru dan calon guru dapat meneliti sendiri kegiatan praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas
 Guru dan calon guru dapat melihat, merasakan dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan selama ini emiliki keefektivan yang tinggi.
 Guru dan calon guru daat mencari cara baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam pembelajaran di kelas dengan cara melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa.
 Menumbuhkan budaya meneliti pada guru dan calon guru agar terjadi inovasi pembelajaran
 Meningkatkan keprofesionalan guru dan calon guru, terutama kemampuan dalam menjabarkan kurikulum sesuai dengan tuntutan lokal, sekolah, dan kelas
 Meningkatkan mutu pengajaran dan hasil belajar peserta didik berdasarkan temuan langsung dari kelas guru sendiri
 Mengembangkan kerjasama atau kolaborasi antarguru di sekolah itu dan guru-guru di sekolah lain di dalam memecahkan masalah pengajaran dan pembelajaran.
 Menumbuhkan kebiasaan guru atau calon guru melaksanakan pembelajaran yang berwawasan penelitian (learning through research).
 Membiasakan guru atau piha lain untuk memecahkan masalah dan erumuskan program pembelajaran berdasarkan temuan empiris yang kontekstual.

D. JENIS DAN MODEL PTK
 Jenis Penelitian Tindakan Kelas
Menurut Sunendar (2008), ada empat jenis PTK, yaitu: (1) PTK diasnogtik, (2) PTK partisipan, (3) PTK empiris, dan (4) PTK eksperimental. Berikut dikemukakan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut.
1. PTK Diagnostik, yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosa dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Contoh: apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
2. PTK Partisipan, suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan panelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencacat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil panelitiannya. PTK partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah seperti halnya contoh nomor satu di atas. Peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
3. PTK Empiris; yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari.
4. PTK Eksperimental; yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatam belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegitan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.

 Model Penelitian Tindakan Kelas
Ada beberapa model PTK yang sampai saat ini sering digunakan di dalam dunia pendidikan, di antaranya menurut Susilo (2009): (1) model Kurt Lewin, (2) model Kemmis dan Mc Taggart, (3) model John Elliot, (4) model Hopkins, dan (5) model Mc Kernan.


1. Model Kurt Lewin
Menurut Sunendar (2008), konsep inti PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin ialah bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: (1) Perencanaan (planning), (2) aksi atau tindakan (acting), (3) Observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting).



2. Model Kemmis dan Mc Taggart
Konsep PTK model Kemmis dan Mc Taggart merupakan perkembangan dari model Kurt Lewin. Susilo (2009) menyatakan bahwa pelaksanaan penelitian tindakan mencakup empat langkah:
a. merumuskan masalah dan merencanakan tindakan
b. melaksanakan tindakan dan pengamatan/monitoring
c. merefleksi hasil pengamatan
d. mengubah/merevisi perencanaan untuk pengembangan selanjutnya


3. Model John Elliot
Apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot nampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan). Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Tujuan disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini agar terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa rupa itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya (Sunendar, 2008).


Gambar 1.3 langkah-langkah PTK model John Elliot (Sumber: Elliot:1991)

4. Model Hopkins
Hopkins memiliki pendapat sendiri tentang model/desain PTK yang didasarkan pada desain-desain para ahli pendahulunya, yaitu sebagai berikut:

Gambar 1.4 desain PTK model Hopkins(Sumber: Hopkins:1993)

5. Model Mc Kernan
Mc Kernan menjabarkan lebih rinci proses penelitian tindakan dalam tujuh langkah yang harus dicermati, antara lain sebagai berikut.
1) Analisis situasi atau medan
2) Perumusan dan klarifikasi permasalahan
3) Hipotesis tindakan
4) Perencanaan tindakan
5) Implementasi tindakan dengan memonitoringnya
6) Evaluasi hasil tindakan
7) Refleksi dan pengambilan keputusan untuk pengembangan selanjutnya



E. Prosedur Pelaksanaan PTK
Menurut Zulkarnaini (2009), prosedur PTK terdiri dari empat langkah utama,antara lain perencanaan (plan), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Menurut Djojosuroto (2004) dalam Zulkarneni (2009) keempat prosedur itu dapat dijabarkan seperti berikut ini:
(1) Melaksanakan survei terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Teknik yang digunakan: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, tes, atau teknik lain.
(2) Mengidentifikasi berbagai masalah yang dirasakan perlu untuk segera dipecahkan. Misalnya: siswa sangat pasif selama pembelajaran.
(3) Merumuskan secara jelas, dengan disertai penjelasan tentang penyebab-penyebabnya. Misalnya siswa sangat pasif selama pembelajaran karena dalam memimpin pembelajaran guru hanya menggunakan teknik ceramah.
(4) Merencanakan tindakan untuk mengtasi masalah yang muncul tersebut. Misalnya untuk pelajaran bahasa Indonesia guru menerapkan teknik bermain peran (role play) dengan mempertimbangkan bahwa dengan teknik tersebut siswa dapat mengembangkan keterampilan berbahasa dengan ragam yang dikehendaki.
(5) Melaksanakan tindakan, yang dalam contoh di atas ialah menerapkan teknik bermain peran dalam pelajaran bahasa Indonesia.
(6) Melakukan pengamatan terhadap kinerja dan perilaku siswa. Tujuannya adalah untuk mengetahaui ada tidaknya perubahan keaktifan siswa dalam pembelajaran.
(7) Menganalisis dan merefleksi: menjelaskan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tindakan. Misalnya dengan teknik bermain peran siswa mulai menammpakkan keberaniannya menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam tertentu. Masalahnya: mereka masih terkesan malu-malu kucing.
(8) Melakukan perencanaan tindakan ulang untuk meningkatkan kualitas kinerja seperti yang dihendaki atau memecahkan masalah yang tersisa (contoh di atas adalah rasa malu-malu kucing). Ketika sampai ke langkah yang kedelapan ini, peneliti sudah memasuki siklus yang kedua.

F. Kelebihan dan Kekurangan PTK
Proses penelitian kolaboratif memperkuat kesempatan bagi hasil penelitian tentang praktik pendidikan untuk diumpanbalikkan ke sistem pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan kritis. Proses tersebut mendorong guru untuk berbagi masalah-masalah umum dan bekerja sama sebagai masyarakat penelitian untuk memeriksa asumsi, nilai dan keyakinan yang sedang mereka pegang dalam kultur sosio-politik lembaga tempat mereka bekerja. Proses kelompok dan tekanan kolektif kemungkinan besar akan mendorong keterbukaan terhadap perubahan kebijakan dan praktik. Penelitian tindakan kolaboratif secara potensial lebih memberdayakan daripada penelitian tindakan yang dilakukan secara individu karena menawarkan kerangka kerja yang mantab untuk perubahan keseluruhan (Burns, 1999 dalam Muthoharoh, 2009).
Selain itu, ada kelebihan lain dari PTK kolaboratif menurut Wallace, 1998 dalam Muthoharoh, 2009 antara lain:
(1) kedalaman dan cakupan, yang artinya makin banyak orang terlibat dalam proyek penelitian tindakan, makin banyak data dapat dikumpulkan, apakah dalam hal kedalaman (misalnya studi kasus kelas bahasa Inggris) atau dalam hal cakupan (misalnya beberapa studi kasus suplementer; populasi yang lebih besar), atau dalam keduanya dan ini disebabkan makin banyak perspektif yang digunakan akan makin intensif pemeriksaan terhadap data atau makin luas cakupan persoalan dalam hal tim peneliti saling berkolaborasi dalam meneliti kelasnya masing-masing.
(2) Validitas dan reliabilitas, yaitu keterlibatan orang lain akan mempermudah penyelidikan terhadap satu persoalan dari sudut yang berbeda, mungkin dengan menggunakan teknik penelitian yang berbeda (yaitu menggunakan trianggulasi); dan
(3) Motivasi yang timbal lewat dinamika kelompok yang benar, di mana bekerja sebagai anggota tim lebih bersemangat daripada bekerja sendiri.
Menurut Shumsky dalam Madya, 2008, PTK memiliki kelebihan sebagai berikut:
(1) tumbuhnya rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK,
(2) tumbuhnya kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat reflektif/evaluatif dalam PTK,
(3) dalam kerja sama ada saling merangsang untuk berubah,
(4) meningkatnya kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK.
PTK Anda juga memiliki beberapa kelemahan antara lain:
(1) kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada Anda sendiri karena terlalu banyak berurusan dengan hal-hal praktis
(2) rendahnya efisiensi waktu karena Anda harus punya komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya sementara Anda masih harus melakukan tugas rutin
(3) konsepsi proses kelompok yang menuntut pemimpin kelompok yang demokratis dengan kepekaan tinggi terhadap kebutuhan dan keinginan anggota-anggota kelompoknya dalam situasi tertentu, padahal tidak mudah untuk mendapatkan pemimimpin demikian (Madya, 2008).

G. Pentingnya Seorang Guru Menguasai PTK
PTK merupakan suatu penelitian yang akar permasalahannya muncul di kelas, dan dirasakan langsung oleh guru yang bersangkutan. Penelitian tindakan dianggap sebagai sesuatu bentuk investigasi yang bersifat reflektif, partisipasif, kolaboratif, spiral, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan sistem, metode kerja, proses, isi, kompetensi, dan situasi.
Menurut Susilo (2009), alasan perlunya PTK adalah karena PTK membuat guru dan siswa mampu membangun cara-cara yang berbeda untuk menyelesaikan atau menyempurnakan tugas-tugas membelajarkan/belajar memperbaiki praktik pembelajaran dan tingkah laku belajar dalam kelas, serta mampu mengerjakan kegiatan belajar mengajar yang efektif untuk semuanya. PTK juga dapat digunakan sebgai sarana komunikasi dan kolaborasi antara guru dan dosen pada bidang studi yang sama, misal melalui kegiatan lesson study. Selain itu, alasan terpenting dilakukan PTK adlah guru tidak perlu takut dengan istilah penelitian yang seringkali terkesan rumit, karena PTK tidak memerlukan teori dan statistika yang rumit.
PTK penting bagi guru karena
1. Guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya
2. Temuan penelitian tradisional sering sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran
3. Guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnya
4. Interaksi guru-siswa berlangsung secara unik
5. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan PTK di kelasnya (Mundilarto 2004).
Peran serta guru dalam upaya-upaya perbaikan pendidikan dirasa perlu untuk menemukan pendekatan yang berbeda dalam pemanfaatan penelitian untuk perbaikan pembelajaran. Guru tidak lagi dianggap sebagai penerima pembaharuan, melainkan ikut bertanggung jawab dan berperan aktif untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya sendiri melalui penelitian tindakan yang dilakukan terhadap proses pembelajaran yang dikelola.
Bagi pendidikan di sekolah, PTK dapat digunakan untuk perbaikan secara praktis yang meliputi penanggulangan berbagai permasalahan belajar yang dialami siswa baik yang diajar oleh guru sebagi pelaku PTK maupun siswa lain pada umumnya, seperti kesalahan-kesalahan konsep dalam mata pelajaran, kesulitan-kesulitan mengajar yang dialami oleh guru, dan sebagainya. Selain itu perbaikan praktis tersebut dapat terjadi secara berkesinambungan karena cenderung terprakarsai ”dari dalam” bukan karena diinstruksikan dari luar (Tim Pelatih Proyek PGSM 1999).
Dalam pelaksanaan PTK sasaran penelitian dapat diambil dari berbagai permasalahan dalam pembelajaran sains yang menjadi keprihatinan guru yang dapat digunakan sebagai titik acuan prakarsa pelaksanaan PTK. Dengan demikian para guru dapat memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran sains mereka.
Sasaran yang ingin dicapai dalam penerapan penelitian tindakan kelas yaitu menumbuhkembangkan budaya meneliti bagi tenaga kependidikan agar lebih proaktif mencari solusi akan permasalahan pembelajaran. Pembelajaran sains secara tidak langsung menuntut guru sains untuk rajin melakukan penelitian-penelitian agar dapat menemukan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu proses dan mutu hasil belajar siswa. Setelah ditemukannya metode pembelajaran yang tepat, diharapkan siswa lebih termotivasi untuk belajar dan mudah dalam menerima dan memahami pelajaran tentang sains. Sehingga hasil belajar siswa tersebut juga semakin baik dan pada akhirnya tujuan pendidikan dapat tercapai. Dengan demikian, penelitian tindakan kelas ini sangat relevan dengan pembelajaran sains yang terus berkembang dan sering ditemui permasalahan-permasalahan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
Madya, Suwarsih, Prof., Dr. Penelitian Tindakan Kelas. 2008. (Online), (http://edu-articles.com/penelitian-tindakan-kelas/, diakses tanggal 28 Februari 2010)

Muthoharoh, Hafiz, S.Pd., I. Kelebihan dan Kekurangan PTK Kolaboratif. 2009. (Online), (http://alhafizh84.wordpress.com/2009/12/22/kelebihan-dan-kelemahan-ptk-kolaboratif/, diakses tanggal 28 Februari 2010)

Mundilarto, Rustam. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Sunendar, Tatang. 2008. Penelitian Tindakan Kelas, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, (Online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses tanggal 28 Pebruari 2010).

Susilo, Herawati, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Bayumedia.


Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah (Secondary School Teacher Development Project).

Zulkarnaini. 2009. Penelitian Tindakan Kelas, (Online), (http: Zulkarnainidiran.wordpress.com, diakses tanggal 28 Pebruari 2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar